MEMBANGUN KONFLIK DALAM PENULISAN NASKAH

actingMenulis  naskah  drama  merupakan  kegiatan  proses  kreatif yang didorong oleh pikiran bawah   sadar. Dalam penulisan naskah biasanya seorang penulis terdorong dari peniruan, penyesuaian,  atau  pencocokan  terhadap  pola-pola  yang  telah  dibuat  sebelumnya. Kreativitas   menyangkut   tahapan   pemikiran   imajinatif:   merasakan,   mengahayati, menghayalkan, dan menemukan kebenaran.

Seperti sudah kita tahu, bahwa teater, drama, atau film hampir secara keseluruhan menuturkan tentang kehidupan manusia sehari-hari. Tetapi tentu saja bagi kebutuhan karya, sangat dibutuhkan usaha memberi tekanan-tekanan estetika. Sehingga ketika naskah dipentaskan, akan terjadi komunikasi estetik antara pemain dan penonton.

Berikut ini adalah beberapa pertimbangan dalam menulis naskah.

Menciptakan Konflik

Kreativitas   pengarang   dalam   menulis   naskah   dapat  dilihat dari kemampuan pengarang   menciptakan   konflik   dengan   surprise   atau   kejutan-kejutan,   menjalin konflik-konflik  tersebut,  dan  memberikan  empati  dalam  penyelesaian  konflik.  Jika dalam  jalinan  konflik  ada  kekuatan  tarik-menarik  antara  satu  dengan  yang  lainnya maka  naskah  tersebut  akan  kaya  dengan  ketegangan.  Naskah  drama  yang  banyak memiliki  suspense  (ketegangan)  akan  semakin  memikat  baik  untuk  dibaca  maupun dipentaskan.

Konflik  berkembang  karena  ada  kontradiksi  antar  tokoh  dengan  segala  sesuatunya. Konflik  akan  semakin  meningkat  dan  kemudian  harus  mencapai  titik  klimaks,  dan setelah  itu  ada  penyelesaian.  Jalinan  konflik  inilah  yang  biasanya  disebut  plot  atau alur drama.

Plot atau alur drama ada tiga yaitu sirkuler (cerita berkisar pada satu peristiwa saja), linear  (cerita  bergerak  secara  berurutan  dari  A-  Z),  dan  episodic  (jalinan  cerita  itu terpisah/ terpotong-potong dan kemudian bertemu pada akhir cerita).

Menciptakan Tokoh

Kehadiran  tokoh/  pelaku  dalam  sebuah  drama  menjadi  penting.  Tokoh  atau  pelaku akan  menjadi  penentu  gerak  alur  cerita.  Berdasarkan  perannya  terhadap  jalan  cerita terdapat tokoh protagonis yaitu tokoh yang mendukung cerita, tokoh antagonis yaitu tokoh  penentang,  dan  tokoh  tritagonis  atau  tokoh  pembantu,  baik  terhadap  tokoh protagonis maupun pada tokoh antagonis. Sedangkan berdasarkan fungsinya terdapat tokoh  sentral  (tokoh  yang  menjadi  fokus  gerak  alur  cerita),  tokoh  utama  (tokoh pendukung dan atau penentang tokoh sentral), dan tokoh pembantu (tokoh pelengkap dan atau tambahan dalam alur cerita).

Menciptakan Dialog

Dialog yang dibawakan tokoh/ pelaku merupakan salah satu aspek esensial (inti) yang ada dalam  naskah  drama.  Namun  bukan  berarti  bahwa  naskah  drama  hanya  tergantung pada  dialog,  melainkan  banyak  hal  yang  menjadikan  dialog  menjadi  ciri  penanda naskah drama.

Dalam naskah drama, bahasa yang diwujudkan dalam bentuk dialog, dapat dijadikan penanda memahami siapa dan bagaimana tokoh/ pelaku dalam naskah drama tersebut. Lebih-lebih    bila    bentuk    dialog    tersebut    disertai    dengan    lakuan    akan    lebih memperjelas  maknanya.  Muatan  emosi,  konsep,  dan  perasaan  tokoh  disampaikan melalui dialog.

Menciptakan Simbol

Pada dasarnya seluruh naskah drama tersaji dalam bentuk yang simbolis. Ada sesuatu yang  disembunyikan  penulis  naskah.  Segala  sesuatu  dikatakan  tidak  secara  terus terang,  karena  bagaimanapun  naskah  drama  sebagai  karya  sastra  merupakan  proses kreatif individu pengarang yang berbicara tentang dirinya yang disajikan secara tidak langsung atau dengan menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi. Tanda-tanda   kehidupan,   simbol-simbol   norma,   tanda-tanda   kebahasaan,   simbol- simbol  kejahatan,  dsb  dirangkai  oleh  penulis  naskah  yang  nantinya  dibawakan  oleh aktor di atas panggung untuk disampaikan kepada penonton.

Simbol-simbol  dari  penulis  naskah  yang  nantinya  dibawakan  oleh  aktor  tersebut melalui  interpretasi  sutradara  berfungsi  untuk  mengkomunikasikan  konsep,  gagasan umum, pola, atau bentuk..

Naskah Berbobot

Naskah   drama   dapat   dikatagorikan   berbobot   jika   naskah   drama   tersebut   ditulis dengan dilandasi proses penciptaan seperti tersebut di atas antara lain:

  1. menampilkan  gagasan  baru  melalui  pemikiran  imajinatif:  merasakan, mengahayati,  menghayalkan,  dan  menemukan  kebenaran  kehidupan dengan proses `melihat, mendalami, dan mewujudkan
  2. memiliki konflik dengan surprise  atau kejutan-kejutan, kaya suspense atau ketegangan sehingga memikat untuk dibaca maupun dipentaskan.
  3. menghadirkan tokoh/ pelaku sebagi penentu gerak alur cerita
  4. memiliki  dialog  yang  bermuatan  emosi,  konsep,  dan  perasaan  tokoh disertai dengan lakuan.
  5. menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi
  6. menampilkan  problem kehidupan  manusia,  mengandung  aspek  moral, dan mengandung nilai-nilai pendidikan, dll.

Links Bacaan Lain :

Contoh Sinopsis FTV – Antara Singkong dan Cinta Dara

Syarat, Langkah Penyusunan Sinopsis

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *