Stage Manager, sang nahkoda

Penyajian teater boneka Mwathirika

Okai.. lima menit lagi semua stand by ya. Waktu kita show on…. Saya cek ya, lighting ready? ….Video Ready? ..Audio Ready? …Pemain siap ya semua. Ayo semua fokus…sekali lagi fokus dengan apa yang sudah kita kerjakan.” Begitulah sang nahkoda , stage manager ¬†memberi instruksi yang tegas melalui Handy Talkie nya. “Jangan lupa, semua berdoa untuk kesuksesan karya kita“. Menit terus berganti detik. Dan tibalah giliran mereka untuk sajikan karya.

Okai….Jangan takut. Kita pasti bisa. Semua pegang storyboard masing-masing. Saya hitung mundur, lima..empat..tiga..dua..rolling…ACTION..!! Video bumper Action.. ” Masih di alat komunikasi HT nya.

Sementara itu para stage kru menyiapkan properti dan dekorasi di balik layar. Stage Manager terus memonitor seluruh awak kerjanya. Memberi arah yang tepat semua alat kerja. Stage manager membagikan microphone kepada artis teater, mic headset atau wireless mic. Para pemain musik menempati posisinya masing2. Hening dan Tenang menantikan saat layar dibuka.

Okai ya… Audio Ready, Lighting Ready, Musik Tema Ready, Artis siap…… Empat Tiga Dua Satu …Layar BUKA!!” Layar pun membuka ke sudut kanan kiri panggung. Lighting mainkan peranannya mewarnai semua sudut panggung dan pemain. Dan selanjutnya seorang stage manager terus memonitor perkembangan permainan dengan memperhatikan seluruh alat kerja semua divisi. Tidak gaduh, tidak panik, tetapi tenang dan tegas. Sudah seperti biasa, di awal menjalankan ini memang terasa berat, tegang dan tak tenang. Tapi yakinlah dengan percaya diri dan terus mau mempelajari dan berlatih dengan seluruh awak panggung semuanya akan terasa lebih ringan. Di akhir setiap scene Anda bisa memberi aba-aba seperti Black Out (BO), artinya lampu panggung off, pemain freeze. Saatnya para kru mengganti setting panggung dalam hitungan detik. Dan Lighting dinyalakan kembali setting panggung sudah berubah. Scene berikutnya siap dijalankan kembali.

Nah inilah skenario yang ngga diharapkan, yaitu ketika ada peralatan teknis yang ngadat, seperti audio tiba-tiba bermasalah, atau microphone mati, dst , atau yang lain tidak sesuai prosedur teknis. Seorang stage manager harus mempunyai keputusan yang tegas, seperti SKIP atau Cancel. Pertimbangannya selalu memperhatikan agar cerita terus dapat mengalir meskipun ada satu scene yang terpaksa harus dibuang. Meloncatlah ke scene berikutnya.

Durasi waktu pertunjukan selama 40 menit (di PSP) terus dimonitor melalui instrumen storyboard, apakah sesuai atau tidak. 10 menit sebelum waktu berakhir, panitia memberi ingatan. Dan ingatan itu akan diterima stage manager 10 menit, 5 menit, 3 menit, dan 1 menit sebelum waktu berakhir (menit ke 40).

Okai ya…semua..kita mainkan lagu kebanggaan kita, lagu Jingle.” Dan biasanya untuk di PSP, closing karya disajikan Musik Jingle Live music hingga ditutupnya layar pertanda durasi memang sudah habis. Sebuah resiko tim produksi bilamana waktu tidak dapat dijalankan dengan semestinya. Bisa saja pada bagian akhir tidak sempat menyajikannya. Suka atau tidak suka ini memang harus dihadapi dengan legowo.

Begitulah banyak para stage manager bekerja berurusan dengan waktu (durasi) dan semua hal yang bersifat teknis. Sejak awal stage manager selain bekerja dengan detail storyboard , harus banyak mengikuti kegiatan berlatih tim nya.

Selamat Berkarya..

 

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *